Potensi Desa

via BERDESA.COM – Dari beberapa forum pertemuan antardesa, beberapa kepala desa mengeluh tidak memiliki potensi desa untuk dikembangkan menjadi BUMDesa. Bagaimana sebuah desa membangun BUMDesa jika merasa desanya tidak memiliki sama sekali potensi yang bisa dikembangkan BUMDesa? Jawabannya, tak mungkin desa tidak memiliki potensi. Maka masalahnya hanya pada bagaimana memetakan potensi saja.

Potensi desa memiliki dimensi yang sangat luas. Potensi produk lokal tidak identik dengan produk seperti pertanian dan perkebunan atau kuliner. Soalnya ada banyak desa di dekat kota yang sudah tidak memiliki lahan pertanian untuk menghasilkan komoditas pertanian. Lalu apa yang harus dilakukan desa yang tidak memiliki produk pertanian dan perkebunan, tidak pula memiliki potensi desa wisata. Benarkah ada desa seperti itu?

Pertama, kenapa tidak ada potensi pertanian, perkebunan? Jika ternyata jawabannya karena desa itu berada didekat wilayah perkotaan sehingga warganya tidak lagi bergantung hidup dari sawah mereka, maka berarti peluang usahanya adalah jenis usaha modern. Seperti apa jenis usaha modern?

Misalnya trading alias menjadi desa yang membangun usaha jual beli produk desa lain ke jaringan konsumen perkotaan yang banyak tinggal di desa itu. Seperti yang dilakukan negara Singapura selama ini. Meski negaranya hanya memiliki luas wilayah yang terbilang kecil tetapi Singapura adalah negara kaya-raya karena menjadi gerbang utama perusahaan-perusahaan multi nasional mengoperasionalkan jaringan usahanya.

Desa-desa seperti ini juga bisa mengembangkan jenis usaha modern seperti perhotelan, gudang penyimpanan bagi perusahaan-perusahaan yang butuh storage atau tempat penyimpanan yang besar seperti super market, pabrik dan sebagainya.

Desa seperti ini juga bisa membangun minimarket modern di tengah kerumunan pemukiman karena di area pemukiman seperti itu masyarakatnya memiliki tingkat beli yang tinggi terhadap beragam kebutuhan hidup sehari-hari. Berbeda dengan desa yang warganya masih hidup dari sawah-ladang, mereka memiliki banyak lahan untuk mencukupi kebutuhan dasar seperti makanan yang bisa mereka petik dari kebun mereka sendiri.

Pembacaan peta potensi haruslah berdasar situasi desa senyatanya. Jangan sampai jenis usaha didirikan hanya karena latah alias kepincut dengan hebatnya BUMDesa di desa lain. Soalnya setiap desa memiliki karakter dan potensi yang tidak mungkin sama persis sehingga belum tentu sebuah jenis usaha bakal cocok jika hanya meniru desa lain. Kalaupun potensinya hampir sama maka tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal seperti karakter warganya dan sebagainya.

Seperti desa yang berada di pesisir pantai yang sebagian warganya hidup sebagai nelayan misanya. Maka sebaiknya unit usahanya haruslah sesuai kebutuhan para nelayan seperti membangun toko kebutuhan para nelayan seperti alat pancing, jaring, bahan bakar untuk kapal dan sebagainya. Jika warga saling berkonsolidasi satu sama lain dengan baik, maka mereka bisa mendapatkan harga yang lebih murah untuk berbagai kebutuhan kerja mereka melalui BUMDesa. Jadi, sudah pasti setiap desa memiliki baragam potensi yang bisa dikembangkan.(aryadji/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *