BUMDesa Berdayakan Anak Muda

Kehadiran BUMDesa seharusnya mampu menjawab keresahan anak muda desa mengembangkan potensi diri mereka. Masalahnya, sebagian anak muda masih lebih memilih pergi ke kota mencari pekerjaan. Bagaimana cara BUMDesa memikat hati generasi yang penuh dengan stamina ini?

Maka anak muda adalah golongan yang harus didekati secara intens oleh perangkat desa utamanya kepala desa ketika memulai pendirian BUMDesa. Pelibatan sejak awal akan bukan hanya penting untuk mendapatkan ide segar dari anak-anak muda yang memiliki pandangan luas itu tetapi juga untuk membuat anak muda menjadi paham potensi yang bisa dikembangkan dari lembaga bernama BUMDesa.

Masalahnya, sebagian kepala desa masih kesulitan melepaskan dirinya dari keinginan mengatur segala hal di desa, termasuk dalam urusan BUMDesa ini. Banyak pengurus BUMDesa mengeluhkan campur tangan kepala desa yang terlalu banyak campur tangan dalam penentuan berbagai kebijakan dalam lembaga BUMDesa. Di sisi lain warga desa juga masih diliputi budaya ewuh-prakewuh sehingga tidak pernah berani menetapkan sesuatu tanpa persetujuan sang kepala desa yang dianggap orang yang paling harus dihormati di desanya.

Tarik ulur kepentingan dua generasi inilah yang membuat BUMDesa belum mampu menjadi jerat pesona bagi anak muda. Yang terjadi kemudian, BUMDesa yang sebagian besar perumusannya di kuasai kaum ‘sesepuh’ desa akhirnya menjelma menjadi lembagsa usaha yang dianggap kurang menarik bagi kelompok muda.

Salahsatu perbedaan paling emncolok dari dua generasi ini adalah pada sisi jangakuan pengetahuan dan penguasaan teknologi khususnya informasi. Anak-anak muda masa kini adalah generasi yang mampu mengadopsi berbagai pengetahuan karena kehadiran teknologi internet. Istilahnya, dalam hitungan detik anak-anak muda bakal bisa mengetahui segala sesuatu melalui Googling alias mencari data melalui google.com, sesuatu yang jarang bisa dilakukan kaum sepuh di desa-desa.

Situasi ini haruslah dengan bijak dipahami generasi tua agar mulai mengurangi dominasinya dan mulai memberi porsi bagi anak muda untuk mulai mewarnai sejarah masa depan desanya. Yakinlah bahwa anak-anak muda di desa memiliki banyak potensi yang bisa mereka kembangkan untuk membangun desa mereka melalui BUMDesa. Bukankah anak muda jauh lebih adaptif terhadap perubahan?

Tetapi golongan muda juga harus menyadari bahwa desa mereka membutuhkan sentuhan jiwa muda mereka dengan segenap keseriusan. Soalnya, segala sesuatu mengenai BUMDesa memiliki konsekuensi yang tak ringan karena lembaga itu bergerak atas dana yang disokong oleh negara dan mewajibkan pertanggungjawaban yang pasti dengan target hasil yang juga harus jelas.

Dengan perspektif ini BUMDesa bukan hanya akan menjadi lembaga yang hanya mengurus potensi ekonomi saja melainkan menjadi sebuah ikon baru bagi desa dan anak muda bahwa di desapun mereka bisa menciptakan kreativitas usaha dan bahkan membangun masa depan mereka. Anak-anak muda juga menjadi belajar mengenai tanggungjawab sosial bahwa yang mereka lakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi bakal memiliki pengaruh baik bagi seluruh warga desa. Ini sangat berbeda dengan kepentingan mereka bekerja di kota yang hanya menyangkut kebutuhan ekonomi diri sendiri.(aryadji/berdesa)

Sumber :  berdesa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *